Tuesday, January 24, 2012

No Taste? Lets Taste This Food..

Sedih
Jika Anda membutuhkan dorongan kebahagiaan, cobalah konsumsi minyak ikan untuk meningkatkan kesehatan otak dan suasana hati. Minyak ikan tak hanya kaya dengan asam lemak Omega-3, yang membantu mengurangi depresi, perasaan negatif dan suasana hati, namun salmon dan tuna juga merupakan sumber vitamin B12, yang membantu meningkatkan suasana hati.

Takut
Banyak orang menderita fobia, mulai dari yang umum (seperti acrophobia – takut ketinggian) hingga yang khusus (seperti arachibutyrophobia – takut terhadap selai kacang). Mungkin pola makan Anda perlu diperiksa. Penelitian menunjukkan, kekurangan folat dapat menyebabkan ketakutan irasional dan kecemasan berlebihan, jadi cobalah tingkatkan asupan folat Anda – sama seperti memperbaiki suasana hati dengan Omega-3 – dengan mengonsumsi alpukat.

Marah

I Try To Help Other People

Well, itu termasuk sifat manusiawi, kan? Berusaha membantu orang lain. Seperti yang aku lakukan malam ini. Di tengah perut yang bagai gendang  ditepuk kencang karena menstruasi, pagi ini -1:7 WIB- aku sedang mem-printout laporan temanku, Kim Agatha. Dia salah satu teman cowokku. Yah, sebatas teman yang sering pulang kampung bersama dan memperbaiki motorku saat kami di kota orang. Aku pun sebenarnya tak habis pikir, bagaimana aku bisa melakukan hal ini di saat laporanku pun belum selesai. Hal ini pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Di saat aku dimintai tolong untuk mengedit salah satu blog seorang kakak kelasku yang memang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri.

Saturday, January 21, 2012

Nglamar Pertama Kali

Ayooo, yang udah direstuin, gimana perasaannya di terima?? Aaahhh.. pasti seneng kan? Eh, eh… ini nglamar apa ni yaah? Anything lah..  nglamar sang kekasih atau nglamar pekerjaan yang namanya ketrima pasti seneng kan? Well, karna si penulis masih siswi SMK tingkat 4 di semester 8, yang masih panja~ng banget perjuangannya, penulis mau bahasnya nglamar pekerjaan aja yah .. ^^
***
Pukul 15.00 WIB, Seong Joo, Ryuko, Otani dan aku berjanjian untuk bertemu di depan gang salah satu yayasan tempat kami akan melakukan tes. Yah, kami akan melamar pekerjaan sebagai tentor tingkat Elementary School dan Junior High School.
“Dongseng! berangkat jam berapa kamu?”, teriak Yoona eonni dari ruang keluarga kami.
“Jam 3 sore aku sudah harus tiba di sana eonni.”, jawabku dari dalam dapur.
“Hei! ini suda jam 3 kurang seperempat!”
“Tch! benarkah? A~~rggh, aku pasti akan terlambat”, ucapku sambil duduk di sebelah eonni.
“Ya. Apalagi jika kau mandi dulu.”
“Hei, apa kau menyarankanku untuk tidak mandi?”
“Hei. Mandimu itu super lama. Apa kau mau terlambat pergi ke sana dan membiarkan temanmu menunggu?”
Akhirnya aku menuruti eonni untuk tidak mandi pada sore itu, dan berencana mandi sepulang dari tes tentor ini, sebelum menuju ke sekolahan lagi.
Eonni adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa aku akan mencoba mengikuti tes tersebut. Sebelum akhirnya dia memberitahu Appa.
“Juniormu tidak datang-datang. Aku harus ke rumah sakit mengunjungi Amma. Aku juga sudah memberitahu Appa yang sebenarnya. Tadi Appa sempat marah karena kau pergi sementara ada temanmu yang akan datang. Nanti kau jujur saja dengan Appa!”
Aku membaca pesan itu di tengah tes tertulisku. Dan mungkin memang itu yang seharusnya aku lakukan sebelumnya. Jujur kepada Appa.
***
Tes tertulis.
Setibanya di yayasan tersebut kami mendapati 3 orang peserta tes dari 2 universitas yang berbeda duduk di sana. Kami mengisi daftar hadir, dan disuguhkan 40 soal campur SD dan SMP. Aku mengerjakan soal-soal yang aku rasa mudah dan dapat dikerjakan dalam waktu cepat. Soal yang ada sudah pernah diajarkan dulu, hanya saja tiba-tiba aku mengalami amnesia. Bayangkan saja! aku tidak dapat mengingat 2 alat ukur selain mistar! #sudah dibayangkan?#  ->hei ini keterlaluan. :( hiks.
Aku bahkan tidak percaya aku mengikuti tes ini. Dan aku juga ragu apakah aku mengaharapkan agar diterima. Haha. Tapi, lebih baik aku berharap demikian.
Tes Wawancara
Untuk kali ini, aku merasa super enjoy. Aku memang lebih suka melakukan tes wawancara daripada tes tertulis. Heran juga dengan orang-orang yang khawatir dengan tes wawancara. Bukankah tes wawancara itu hanya menceritakan profil diri? Tak perlu membohongi diri sendiri sajalah, itu kuncinya. Apa iya mau kita diterima kerja karena mereka menilai  sesuatu yang bukan diri kita ? Lalu apa yang dipelajari dari tes wawancara? Sikap! sikap duduk, sikap bicara, dsb. Content pembicaraan? in ur self.
***
Maghrib telah tiba, tanda tes ini berakhir. Aku langsung pulang setelah menemani Ryuko dijemput Ayahnya, dan juga setelah mengantar Seong Joo ke pusat kota. Setibanya di rumah, hujan mengguyur bumi ini dengan sangat deras. :p Dan aku belum dapat masuk ke dalam rumah.
“Arrgghh.. di rumah sepi.  Aku tidak membawa kunci pagar.” gumamku
Selama satu jam, aku duduk di depan gerbang sambil menunggu hujan sedikit reda. Begitu hujan mengurangi volume airnya, dengan segera aku berlari menuju tetanggaku yang juga orang yang membantu membersihkan rumah ini.
“Kunci sudah di tangan.!” aku menggenggam kunci itu.
Selang sekitar setengah jam, Appa, Ahjuma, dan dongseng pulang. Yah, dan benar saja aku diinterogasi Appa tentang tes ini. Hanya saja, setelah aku menjelaskan kepadanya, tak ada tanggapan! Aku tak tahu maksudnya.
Meskipun khawatir dengan ijin dari Appa dan Ahjumi . Kepalaku sebenarnya juga pusing, mungkin karena tadi kehujanan, tapi aku tetap harus segera menuju sekolahan untuk menghadiri pelantikan pramuka. Kuhabiskan kopi creamer tanpa foam (argh.. sesuatu yang tidak begitu aku suka) dalam cangkir biruku. Dan segera menerjang hujan yang masih mengguyur, menemui adik-adik di sekolahan :)

Friday, January 20, 2012

Omma Saranghaeyo :’(

Sudah beberapa minggu ini Amma sakit. Aku, eonni, dan oppa pun sudah mengunjungi Omma di rumahnya. Namun, baru saja Omma mengirim pesan kepada Yoona eonni bahwa finally Amma memutuskan untuk opname, dan itu memang lebih baik. Hanya saja kali ini Omma tidak memilih rumah sakit dimana Omma biasa opname, beliau memutuskan untuk opname di salah satu rumah sakit di daerah kabupaten kota kami. Dalam pesan itu, Amma juga meminta Yoona eonni untuk membacakan Surat Yasin. Dan itu membuatku khawatir tingkat dewa!

Aku teringat saat Jimin eonni, Yeongjun oppa, Yoona eonni, dan aku membuat janji untuk mengunjungi Omma di hari yang sama. Kami memang tidak berangkat bersama dari rumah kami masing-masing, hal itu yang menyebabkan kami datang tidak dalam waktu yang sama.

Ba’da isya, kami berempat berkumpul di hadapan Omma di rumah kontrakannya. Kami berempat membicarakan segala macam bahasan. Dimulai dari cerita masa kanak-kanak kami, kebiasaan kami dulu ketika tinggal masih dalam satu atap, sampai rencana masa depan kami masing-masing. Meski semua kenangan saat kami masih tinggal satu atap sangat mengharukan, tapi kami berusaha kuat agar Omma dapat tersenyum bahkan tertawa mengingat kekonyolan dan kenakalan putra-putrinya.

Ketika melihat Omma dapat tertawa dan merasakan bahwa napasnya sudah dapat bersirkulasi dengan lancar, aku segera mengangkat koran yang ada di tanganku, berpura-pura membacanya untuk menutupi mataku yang pasti akan mulai basah oleh air mata. Hatiku bagai merasakan desiran angin lembut tapi sangat dingin. Yoona eonni memanggilku di saat aku sedang mengerjakan tugas laporanku.

“Dongseng! Kau memiliki tabungan berapa?”, tanya eonni tiba-tiba.
“Hmm, entahlah eonni.. Sepertinya aku sudah tidak memiliki tabungan”, jawabku jujur.
“Aku berencana untuk mengadakan pengajian untuk Omma, aku sudah mengirim pesan ke Jimin eonni”, jelas eonni.
“Seperti Halmeoni (nenek) ?”, tanyaku memastikan.
“Yah, aku memiliki beberapa kenalan di tempat aku biasa mengikuti pengajian”
“Sepertinya itu ide yang bagus, eonni. Hanya saja, aku masih belum paham jalan acaranya ini”
“Atau~ kita tanya Halmeoni saja?”
“Yah, mungkin lebih baik begitu”

Saat ini aku benar-benar tak tau harus bagaimana. Tubuhku sangat lemas mengkhawatirkan kesehatan Omma, terlebih lagi aku harus berpikir keras untuk menyelesaikan tugas laporan dan tugas akhir sekolahku. Setiap waktu tak pernah aku melupakan untuk mendoakan kesembuhan Omma. Masih banyak kegiatan, masih banyak waktu yang ingin aku lalui bersama Omma. :’( Aku harap kalian juga bersedia mendoakan Omma untuk kesembuhannya dari penyakit asma, agar Omma dapat beraktifitas seperti biasanya. Amin.

Gomawo chingu~~ :’(

Monday, January 16, 2012

Melepas tes JIAEC

Saat ini, teman-temanku sedang melakukan tes pemagangan ke Jepang. Sebelum mereka menuju ke ruang tes, aku sempat dimarahi oleh mereka. Mereka adalah teman-teman yang pada akhirnya mengikuti tes karena bujuk rayuku.
Yah, alhasil, aku melepas kesempatan untuk ke Jepang. Sebenarnya ada banyak alasan aku membatalkan diri untuk tidak mengikuti tes tersebut. Aku masih belum bisa meninggalkan ibu dan ayahku yang sekarang mulai sakit-sakitan. Selain itu keadaan mataku yang mengalami minus merupakan syarat yang tidak dapat aku lalui.

Hingga hari ini, aku pun memperoleh informasi tentang biaya hidup di sana, beribadah di sana, dan sebagainya. Saat duduk di samping Kisame, ia menceritakan proses wawancara yang telah ia laluinya.

“Aku diperintahkan untuk menyusun suatu tabung di dalam kotak kayu.”

Hmm, sepertinya memang harus mempertimbangkan pernyataan seorang kakak kelasku yang memberi informasi bahwa tidak ada pekerjaan untuk keahlian di departementku.

Tuesday, January 10, 2012

Pendamping Hidup Baru Ibuku

Omma mencoba membangun keluarga baru pada tahun 2010 bersama seorang pria pilihannya. Badannya agak gemuk, kulitnya hitam, dan beliau memiliki tahi-lalat di dagunya. Meski pekerjaannya hanya sebagai seorang supir taxi, tapi aku rasa beliau tulus mencintai omma. Aku akui, pria yang aku panggil dengan sebutan “Ahjuhsi” ini sederhana dan baik. Tampilannya memang tidak seperti ayahku yang memiliki pawakan gagah, tapi aku sangat  welcome dengan beliau.

Omma yang kini telah berusia 52 tahun ini sering sakit-sakitan. Penyakit asmanya sering kambuh tiap kali Omma batuk. Itulah alasan kakak-kakakku dan aku sangat memperhatikan makanan yang Omma makan. Penyebab kambuhnya asma Omma memang tidak hanya karena salah makan, tetapi dapat juga dikarenakan pikiran negatif yang muncul dalam diri Omma. Dan itu tidak dapat sepenuhnya kami kendalikan, right?

Well, everything that you had been giving for my mom, really thanks so much. I hope you will love my mom forever. :’) Thankyou uncle :)

Monday, January 2, 2012

Awal Pekan di Semarang

Hari Senin, biasanya mas Imam barusan pulang dari mudik, mampir ke kos sebentar, papasan waktu aku keluar buat mandi. Tapi sekarang engga bisa liat lagi mas Imam yang lagi keburu-buru make sepatu depan kamar, trus lari ke keluar menuju motornya dan meninggalkan bau wangi dari minyak wanginya. Aku masih penasaran minyak wangi apa ya yang dipakai?
Tadi malam, mas Risco juga sms kalo kos sepi banget. Hanya ada mas Roy yang nemenin mas Risco.

Seharian kemarin, aku dianter mbak Debby buat beli bawahan seragam putih panjang karena hari Senin ini seharusnya hari pertamaku resmi memakai jilbab di sekolah. Selama perjalanan, aku kebayang-bayang sama anak-anak kos :’) Terutama sama mas Dwi. Engga tau napa bisa kangen banget sama mas Dwi. Pertama kali kenal itu waktu makan-makannya mas Nandar. Nekatin diri buat tanya-tanya sama dianya tentang kebiasaannya nglukis. kebetulan dia juga anak SMK dulu jurusan Multimedia di Padang. Well, sejak saat itu kami bisa deket. Dari yang cerita-cerita pengalaman magang, iseng-iseng buat film stop motion, buat paper toys,musc, dsb. Kebetulan, namanya dia kalo di Padang artinya juga sama kayak panggilanku. Dwi=Jawi=Sapi=Mo.

Malam Sabtu, aku tanya sama mas Risco mas Dwi bakal main g ke kos, Sabtunya aku tanya lagi sama mas Risco. Mas Risco bilang mas Dwi g bakal dateng ke kos soalnya mas Dwi pulang ke Wonogiri. Aku sedih banget. Hehehe.Sedangkan Badiah nyaranin buat minta mas Risco nganterin ke kosnya mas Dwi buat pamitan. Yah, tapi waktunya engga cukup. Alhasil, setengah jam sebelum aku 'check out' dari kos <>, tepat waktu dhuhur mas Dwi dateng sekedar buat ambil jaketnya yang ketinggalan di kamarnya mas Risco. Sampai dia mau naik motornya meninggalkan kos, aku larike depan kos.
“mas, aku pamit. Mau pulang Semarang.”, kataku.
“Oh, iya. Ati-ati ya.”, jawab mas Dwi yang kayaknya engga sadar kalo barang-barang di kamarku udah kosong.
“Engga balik lagi ke sini”, sambungku dengan suara lirih dan pelan.
“Loh? beneran?, mas Dwi masih belum percaya.
Aku cuman mengangguk.
“Sini!”, mas Dwi menyuruhku buat menghampirinya.
“Aku pamit ya mas..”, masih dengan suara lirih dan pelan, serta menjabat tangannya. Memandang tepat ke matanya.

Mas Dwi tersenyum, kelihatan tulus. “iya, ati-ati ya”, sambil mengarahkan tangannya ke keningku. Dan aku membiarkan punggung tangannya menempel di keningku. Beda dengan mas Roy yang aku sendiri malah menempelkan punggung tanganku ke pipiku. Cukup lama kami berjabat tangan.Dan aku sadar kalo kami dilihat mas Risco sama Cita. Finally mas Dwi harus pergi, aku pun melanjutkan mengemasi barang-barangku yang masih tersisa.
Small Cute Hot Pink Pointer