Wednesday, October 16, 2013

Apa aku menyakitimu Ibu?

Best drawing made by Kyluvlee
 Kasih Ibu kepada beta, tak terkira sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia

Kasih Ibu kepada beta, tak terkira sepanjang masa.    -- (Kasih orang tua memang tak tertandingi.)
Hanya memberi, tak harap kembali. -- (Kalau mereka minta tolong, bukan berarti mereka minta sebuah imbalan)
Bagai sang surya menyinari dunia -- (Mereka memang bagai sang surya bahkan lebih)

-Mencoba mengambil tema tentang uang.-
 
Malam itu, aku mengunjungi rumah Ibuku yang terletak di daerah pegunungan. Sudah lama sekali aku tak melihatnya. Meski begitu, Ibu selalu mengirim pesan kepadaku.

Namaku Ai. Putri terakhir yang pendiam. Orang-orang mengenalku
memiliki hati yang sangat pemurah. Ketika orang lain meminta tolong kepadaku, aku selalu berusaha membantu, tak peduli dengan kebutuhanku sendiri. Yang ada di pikiranku hanyalah "Selama aku masih hidup, dan aku mampu, aku akan memberikan bantuan kepada siapa pun itu. Tanpa perhitungan untung rugi yang akan aku dapat". Apakah kau memicingkan sebelah matamu ketika membaca ini? Yah, itulah hak kalian. Ini memang tampak seperti dalam sebuah dongeng. Tapi, percaya padaku. Beginilah aku tanpa aku lebih-lebihkan.

Semua orang di dunia ini memang tak ada satu pun yang sempurna. Kecuali ketika engkau mengagumi seorang idola. Mereka akan tampak begitu sempurna di matamu. Begitu pula ketika orang lain mengatakan aku memiliki hati yang sangat pemurah. Mereka pun mengatakan "Sekali Ai berbicara, apa yang dibicarakannya akan sangat mengena". Kau tahu maksudnya mengena? Hmm, mungkin bisa dikatakan bahwa yang aku katakan akan menyentuh hati orang yang aku ajak bicara. Namun, jangan salah! Menyentuh hati bukan saja berarti apa yang aku katakan akan menyenangkan hati mereka. Menyentuh hati juga berarti akan benar-benar mematahkan hati mereka, menghancurkannya, dan apapun itu melebihi sekedar menyakiti hati mereka. Dan itulah suatu sifat yang sangat aku sayangkan. Sebuah "keahlian" yang aku khawatirkan.

Dan aku mengulanginya lagi...
Source : unikindo.blogspot.com

Malam itu, aku mengerjakan tugas di salah satu kamar depan ibuku. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat, perlahan terdengar suara pintu dibuka. Ibu menggeser pintu itu. Sreeettt.. Ibu menghampiriku. Aku tahu apa yang akan ibu katakan. Setelah duduk di sebelahku, Ibu mengatakan bahwa ingin meminjam uang kepadaku.Tanpa ada maksud ingin menolak, aku mencoba ingin menjalankan perintah eonni. Perlahan dan sangat berhati-hati bertanya, "Untuk apa uang itu Bu? Bukankah baru saja kemarin sudah meminjam eonni?"
"Untuk keperluan tentunya"
"Ada yang kurang? Memang penghasilan ibu dari hasil mengajar sebulan berapa?"
Ibu pun menjelaskan pendapatan dan pengeluarannya. Namun terlihat sekali masih ada yang Ibu tutup-tutupi.
Ketika aku mengatakan, "Adek tidak keberatan memberikan uang kepada Ibu, hanya saja adek ingin tahu uang itu akan Ibu gunakan untuk apa. Jika ada suatu kekurangan lebih baik didiskusikan dengan eonni, agar dapat ter-manage dengan baik. Lalu Ibu akan pinjam berapa?"
"Sudah, tidak usah saja. Maafkan Ibu selalu merepotkan kalian. Bulan depan semua uang yang telah Ibu pernah pinjam akan Ibu kembalikan. Maaf ya dek." Ibu pun keluar kamar meninggalkan aku yang masih dalam keadaan shock, terpatung, membeku, dan seperti hanya otakku saja yang melakukan pergerakan. Bahkan napasku sejenak terhenti. Memikirkan kesalahan-kesalahan kata yang telah aku ucapkan.

Sepulang dari rumah Ibu, aku sudah bersiap untuk tidur. Memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi di rumah Ibu tadi. Ketika aku pamit pulang saat itu, Ibu menolak pemberian uangku yang hanya sekedar untuk 'sangu' Ibu. Aku memanjatkan doa, berharap aku tidak menyakiti hati Ibu. Berharap kesehatan dan umur panjang untuk Ibu dan Ayah yang sekarang sudah tinggal serumah lagi denganku.

Pagi sudah menyapa. Ada satu pesan dari kakak pertamaku dan Ibu. Ibu meminta maaf sekali lagi, dan bermaksud mengembalikan tas yang dipinjamnya beberapa minggu lalu. Eonni pun mem-foward pesan dari Ibu yang dikirimkan kepada Fia eonni. Siangnya, Erin eonni juga mem-foward pesan dari Ibu.

Aku benar-benar dalam masalah.

Aku yakin aku telah menyakiti hati Ibu. Seharusnya aku sudah tahu apa yang akan terjadi mengingat tipe dan sifat Ibu. Ingin rasanya aku mengulang malam itu, mengganti moment itu dengan pelukan hangat untuknya. Air mataku menetes. Erin eonni mengatakan bahwa Ibu memaksa eonni untuk bertemu di depan gang rumah yang aku dan Erin eonni tinggali. Apakah ini awal mula Ibu akan mengembalikan apa yang telah Ibu pinjam kepada anak-anaknya?

Di sisi lain aku menyesali mengapa Ibu tidak berpikir dengan cara yang lain. Bahwa bukan berarti aku merasa keberatan membantu Ibu. Teringat suatu hadist yang mengatakan bahwa salah satu tujuan seorang bekerja yaitu untuk orang tuanya, maka ia tergolong orang yang telah berjihad di hadapan Allah. Teringat pula kisah Nabi Muhammad ketika bertemu dengan seorang yang meminta-minta.Kanjeng Nabi tidak memberikan uang, namun memberikan kapak kepada orang tersebut untuk bekerja.
Ada yang harus dipelajari di sini. Dalam membantu orang lain, kita juga harus membantu dengan cara yang mendidik. Aku tidak ingin Ibu sampai di usianya yang sudah tua akan terus memiliki kebiasaan hutang.
Sayang sekali ketika aku mengatakan ingin membantu Ibu melunasi hutang-hutang Ibu, Ibu tidak membalas pesanku.

Ya Allah. hamba mohon semoga Engkau selalu memuliakan Ibu dan Ayah hamba dan teman-teman pembaca sekalian. Semoga Engkau memberikan umur panjang, dan senantiasa memberikan kesehatan serta kebahagiaan untuk kedua orang tua kami Ya Allah Yang Maha Pengabul doa umat-umatnya. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Small Cute Hot Pink Pointer