Wednesday, December 18, 2013

Disha #2

Empat jam telah berlalu, nyatanya, aroma terapi yang aku gunakan saat mandi tadi pun tidak bekerja. Pikiran dan hatiku masih belum tenang. Aku ingin mengirim pesan kepada Dany, tapi aku masih merasa marah karena dia membalas pesan Lisa.
Kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku. Lemas. Dan... Putus asa. Aku tau Tuhan tak akan suka umatnya merasa putus asa. Tapi aku seakan ingin berada di tengah hamparan rumput luas, bersembunyi di balik pohon beringin besar dan tua. Sendiri. Sepi.
Dany, aku
minta maaf karna tak bisa membuatmu bahagia di hari bersejarahmu. Bahkan aku merasa tak berniat lagi untuk memberikan baju yang telah aku buatkan untukmu. Aku tak peduli berapa lama aku membuatnya, atau bagaimana aku harus mencuri waktu saat jam kerja, atau saat aku pulang kuliah untuk mencari bahan yang kurang. Tak peduli pula harus tidur pagi dan melanjutkan saat fajar tiba. Dan tak peduli akan tugasku yang hampir tak terjamah demi membuatkanmu baju hasil karyaku sendiri.
Aku ingat saat detik-detik deadline pengumpulan tugas. Kamu memarahiku karena kamu merasa kamu telah aku lupakan karena tugasku. Tapi sekarang kamu perlu tau, setiap saat aku memikirkanmu. Sebelum tidur berusaha untuk terbangun sebelum fajar agar tak ketahuan Tante di rumah. Aku susun satu per satu kado untukmu hingga aku selalu korbankan satu jam waktu kerja. Sebelum berangkat kuliah mencari bahan dari toko ke toko, begitu pula saat pulang kuliah. Dan aku lanjutkan lagi menyiapkan kado itu hingga dini hari.
Dan~, aku merasa apa yang telah aku persiapkan sudah tak istimewa lagi. Aku merasa pesan dari Lisa adalah yang teristimewa. Kamu bahkan mungkin tak membutuhkan doaku, karena doaku telah terwakilkan olehnya.
Maaf aku bersikap seperti ini, aku rasa kamu tahu, jika aku sudah trauma akan suatu hal, akan sulit sekali mereka hilang.
Sekali lagi maaf, tak bisa membuat hari itu sangat menyenangkan, membahagiakan, dan tak terlupakan.
W/ <3
-Disha-

No comments:

Post a Comment

Small Cute Hot Pink Pointer