Thursday, January 30, 2014

Berkenalan dengan Gunung Ungaran


Lima tahun yang lalu. Pertama kali aku mendaki gunung. Cukuplah gunung terdekat dari tempat tinggalku. Gunung Ungaran. Dengan ketinggian 2050 mdpl, gunung ini ternyata adalah gunung berapi.
Aku bahkan baru mengetahuinya sekarang setelah membaca wikipedia :D Hehe. Menurut website tersebut, diperkirakan gunung ini pernah meletus pada zaman kerajaan dahulu, dengan letusan yang amat dahsyat sehingga menghancurkan dua pertiga bagian puncak dari semula sehingga yang dapat dilihat sekarang adalah hanya sepertiga bagian dari gunung Ungaran berapi purba. Diperkirakan, gunung ini sedang mengalami masa tidur panjang dan sewaktu-waktu dapat aktif kembali.

Terlepas dari pengetahuanku bahwa gunung ini adalah gunung berapi, aku menerima ajakan kakak kelasku untuk menengok gunung tersebut. Sembari mencoba untuk pertama kalinya apa yang dinamakan mendaki/muncak. Ya, bagiku itu adalah kali pertama menginjakkan kaki di gunung Ungaran ini. Tapi tidak bagi teman-temanku seangkatan. Dwi, Elly, dan Faridda. Mereka pernah mengikuti Pengenalan Medan (atau biasa kami sebut PM) di lereng gunung tersebut, tepatnya di Promasan. Dan aku ingat betul bagaimana menyesalnya aku ketika melihat truk membawa rombongan yang sedang bersemangat itu dan melihat mereka yang sedang briefing dari lantai 2 bersama mas Wisnu, seorang kakak kelasku.



Sebelumnya, aku akan memperkenalkan mereka satu per satu.
  1. Mas Gozali, laki-laki berjaket merah (bukan berkerudung merah yang melewati hutan demi bertemu neneknya yang dalam perjalanan dihadang oleh srigala-srigala buas ya). Orang ini biasa dipanggil Cakil, nama lapangannya.Menurutku, kakak kelasku satu ini sangat sadar akan lingkungan sosial. Ramah, sopan, dan ketika dia tertawa terkekeh, aku pun harus menahan kegelianku saat melihat tingkahnya.
  2. Mas Axol. Dia juga seangkatan dengan mas Gozali. Orang satu ini ternyata adalah saudara jauh dari Faridda, teman seangkatanku. Menurutku, dia orangnya agak gak garing kalo bercanda. Shishishi. Ketika suatu saat ia mencoba untuk melucu, pastilah aku dan Dwi akan tertawa terbahak-bahak melihat target candaan mas Axol bermuka bingung, heran, dan bisa jadi berpikir "ih, apaan sih?!". Meski begitu, ia selalu sadar bahwa segala sesuatu harus dikerjakan dengan kerja keras. 
  3. Afif. Dia ini teman seangkatanku. Jaket hitam dan bertopi. Panggil saja cungkring. Dia lebih terkenal dengan nama itu. :p
  4. Dwi. Nah, anak ini klop banget sama aku. Hayah. Emang dasarnya orangnya santai dan bisa adaptasi dengan semua orang yang ditemuinya. Pastilah semua orang akan merasa nyaman waktu main sama dia.Di ankatan kami, Dwi mendapat nama lapangan Blekok. Tau blekok? Pascapelantikan, Di search di google. Ternyata blekok adalah nama burung maskot Semarang. Wew. Dulu, nama itu diberikan kepada Dwi karena saat pelantikan, dia jalannya pincang. Entah kram atau apa aku lupa. Oya, dia yang pake jaket biru kantung doraemon dan berambut panjang.
  5. Elly. Cewek cantik asal Bandungan yang berjaket pink polos. Seangkatanku juga. Oranganya sopaaaaaaannnn banget deh. Dan tentu saja menjadi idola dimana pun dia berada. Bisa dibilang, dia ini jagoannya kita-kita kalo di Ungaran. Katanya, waktu SD Elly sering main ke sana.
  6. Faridda. Ini cewek putiiiiiiiiihhhh banget. Dan keciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiillll banget deh. *aku jadi keliatan raksasa kalo di sebelahnya -_-* Sawiyah. Sebutlah sawiyah, dan kalian pasti langsung tau kenapa dia mendapat nama itu. Orang ini solid banget kalo sama temen. Salah satu contohnya adalah ketika pelantikan, dia orang yang pertama kali mengajukan diri kepada para alumni karena Elly menghilang (yang ternyata disembunyikan). Tapi jangan harap dia bisa cocok dengan kamu-kamu-kamu untuk berteman. Katanya, dia orangnya judes, menakutkan, cuek, dsb. Tapi menurutku gak gitu deh. Menurutku baik banget malah. Bisa dibilang, Faridda menempati urutan ke-2 dari 3 untuk kecocokanku setelah Dwi. Orangnya yang mana? Tuh yang pakai jaket abu-abu.
  7. Rishma. Itu aku~~! Aku pake kaos olah raga warna kuning. Berkacamata dan berambut keriting. (Sekarang sudah lurus dan sepantat panjangnya :p hayah). Panggil aku KINJENG :D

Entah karena alasan apa, kami masih memakai seragam sekolah. Terlebih lagi Faridda tampaknya masih mengenakan hem seragam. Dwi hanya memakai rok kulot (rok celana khas STM Pembangunan Semarang), begitu pula Mas Gozali dan mas Axol. Aku sendiri memakai atasan olahraga warna kuning dan rok kulot. Hanya Elly yang sudah siap memakai pakaian bebas. Oya, Afif bahkan masih memakai sepatu PDL! Oh, entahlah bagaimana tersiksanya.

Kami tiba pukul 8 malam di pasar Jimbaran, Ungaran.
Yang moto mas Axol. dan gak tau apa yang dilakukan Dwi.
Dia belum senarsis sekarang, yang sudah sadar kamera.
Ini dia mas Axol. Haha. Piss ya mas.
Ini naik mobil box milik pacar Elly. Yah, aku akui kami sangat dimanja untuk pendakian seperti ini.
Dan saat itu kami bertemu rombongan dari Purwokerto.
Pukul 20:39 WIB, kami dalam perjalanan naik menuju ke mawar. Elly menelefon pacarnya untuk membawa mobil boxnya dan mengangkut kami ke atas ~( ' 3')~ Di tengah perjalanan, kami bertemu tiga orang rombongan dari Purwokerto. Mas Rofi, Mas Putra, dan Mas x (lupa namanya).

Faridda, Dwi, and I.

Pukul 21.45 WIB. Kami membagi dua tim untuk mendirikan tenda dan memasak. Dwi, Faridda, dan aku kebagian masak.

Whaaaaaaaaaattt ? Kenapa juga aku sama Mas Goz salaman ya? :/

Ini Mami dan Papiiiiiiii~ aaaaakkk. Mereka mesra sekali ><
 Iya! Dulu di angkatanku, kami membuat silsilah keluarga. Faridda sebagai Mami, dan Afif sebagai Papi. Anaknya? DWIK!!! Hehehe. Aku sendiri punya Orang tua sendiri di sana. Seorang kakak kelasku SMP dan juga anggota Argapeta 30. Oh hey! mereka kini sudah punya pacar masing-masing. Saat foto itu diambil pun, mereka tidak memiliki hubungan khusus kok. (Hal itu harus dijelaskan, karena pacarnya Afif, yang juga teman pramukaku, pernah cemburu dengan mereka berdua).

Mau masak pun masih sempat berpose.

Elly, mas Goz, dan Afif.
Foto dulu sebelum muncak.
Pukul 02.00 WIB, kami harus segera bangun dari tidur. Alarm pun berbunyi dari semua HP secara bergantian dan berisik sekali. Jika ingin melihat sunrise, segera beranjaklah dari Mawar (tempat kami ngecamp tersebut). Pukul 02.24 WIB, tenda dan segala macam peralatan telah selesai di packing.

Sampai di puncak. Alhamdulillah.
Kami sampai di puncak sebelum Subuh. Jadilah kami sempat melaksanakan sholat Subuh di atas puncak. Subbahanallah :) Ini hal yang sangat tidak terpikirkan olehku, kami berkesempatan untuk hal tersebut. Terima kasih Ya Allah, telah berikan kami kesempatan untuk merasakan pengalaman kami yang pertama ini sungguh mengagumkan. ::)

Cuaca di atas puncak tentulah lebih dingin ketika kita berada di lereng. Dan lihat! Foto itu diambil pukul 05.27 WIB. Jam setengah enam pagi di puncak masih terlihat gelap sekali~~~

Sunrise! :)
Setelah menunggu matahari terbit, sarapan, dan menikmati sinar matahari di atas puncak, kami berpamitan dengan teman-teman dari Purwokerto untuk turun duluan. Tapi sayang, Mas Axol menghilang! Sehingga kami pun bertemu kembali dengan teman-teman dari Purwokerto tersebut di lereng gunung. Mereka pun membatu kami menemukan mas Axol.

Beberapa menit, mungkin setengah jam, alhamdulillah mas Axol ketemu. Entahlah apa yang membuat dia bisa menghilang, padahal kami selalu dalam satu rombongan. dan mas Axol pun selalu mengingatkan angakatanku untuk selalu waspada. Inilah yang harus menjadi pelajaran bagi kami. Gunung Ungaran bukanlah HANYA sebuah gunung kecil yang dapat diremehkan begitu saja. Meski hanya 2050 mdpl, Ungaran tetaplah sebuah gunung dengan banyak hutan yang harus tetap diwasapadai. Terlebih lagi bagi kita orang-orang yang telah memutuskan untuk mengunjunginya. Syukur alhamdulillah, kami dapat pulang ke rumah dengan rombongan yang utuh tak kurang satu apapun.

Begitu mendengar suara mas Axol, kami jadi lega untuk berfoto lagi #eh :p

Perbatasan Gunung Ungaran dan Gedong Songo.
Langit ceraaaaaaaaaahhh~

Siapa bilang naik gunung gak capek?
Setibanya di gedong Songo, kami mampir ke warung untuk membeli sarapan yang belum tuntas untuk perut kami.Dan lumayan juga, kami masuk Gedung Songo gratis! Hehe. Ya iyalah, orang kami blusukan dari hutan pinus tembusan puncak :D 

Tanpa pikir panjang, kami bermaksud untuk menginap di rumah Elly. Dan memang sudah rejeki ya, kami tidak hanya diberi tempat menginap, tapi juga makan termasuk cemilan-cemilannya. :D Terima kasih keluarganya Elly :) Semoga berkah ya :D

Menginap di Bandungan itu duiiiiingiiiiiiiinnnn banget! Aku yang terbiasa tinggal di kampung yang dikelilingi gedung-gedung mall merasa daerah itu sangat ubnormal! Nggak mau rasaku menahan diri sia-sia, esoknya kami main ke Bantir dan ke sawah.
Bantir, Bandungan.
Gunung Ungaran "melambaikan tangannya"

Sudah hilang, disuruh nyuci pula.
Sudah dikasih makan itu sangat-sangat-sangat cukup. Kami juga masih sadar diri dong harus membersihkan sendiri bekas piring-piring kami.

Panen Alpukat di rumah tetangga Elly
Tergiur dengan tawaran Elly yang merekomendasikan Alpukat dengan harga murah, kami segera menyerbu pohon Aplukat. Hm, bentuknya seperti pohon mangga biasa kok. Dan merekalah si pemburu alpukat!
Yang lain? Tinggal nangkep aja di bawah :) Oya, waktu itu, Dwi kejatuhan alpukat gedheeeee! Dwi yang kena, aku ikutan teriak -_-"

Capek? Letih? Lesu?
Gak tauuuuuu~ aku lupa apa yang sedang menimpa orang itu .-.
Setelah puas dengan panen alpukatnya, kita kembali ke rumah Elly untuk beristirahat sebentar, dan kemudian pulang :D

Terima kasih Ya Allah, terima kasih Ungaran, terima kasih keluarganya Elly,
dan terima kasih juga teman-teman.
Terima kasiiiiiiihhh bapak ibuuuuk, udah diijinin main :*


No comments:

Post a Comment

Small Cute Hot Pink Pointer