Langit gelap tak bercahaya. Hujan turun dengan sangat lebat. Seakan tak peduli dengan tanaman di dalam pot yang bisa saja rusak diguyur olehnya. Tak peduli dengan cacing-cacing yang ingin hidup tenang di dalam tanah sehingga terpaksa harus menggeliat ke permukaan tanah merasa terganggu rumahnya dihancurkan oleh genangan air hujan.
Sejak peristiwa itu, pertengkaranku dengan Dhany, aku yakin aku tidak ingin melakukan apapun. Semangat yang semula membara untuk mengerjakan tugas kuliah pun tiba-tiba membeku. Aku hanya ingin duduk, melihat hujan, dan mendengarkan musik dengan earphone di sebelah telinga kananku karena aku pun ingin mendengar suara gemuruh yang berisik, juga suara air hujan yang jatuh ke dedaunan.
Aku tidak ingin memikirkan apapun....
Tapi sekuat aku memaksakan diri, aku semakin teringat dengan perbincangan Ibu dan Kak Zaria, kakak perempuan pertamaku, kemarin malam. Tentang perceraian Ayah dan Ibu dahulu. Tentang apa yang harus kami, anak-anaknya rasakan semasa menunggu proses perceraian.
Kak Zaria bilang,



