Friday, January 18, 2013

Mr. DJ – My Art Teacher

border_line
Malam ini, saat aku sedang saling berkirim pesan kepada Masao, aku teringat akan salah seorang guru seniku saat Junior High School. Saat Junior High School, aku memiliki dua seorang guru seni yaitu Pak Tri dan Pak Djarwanto. Pak Tri hanya mengajar kelasku selama 1 tahun saja, 2 tahun sisanya kami dibimbing oleh Pak DJ –begitu kami memanggilnya-
Bagi teman-teman yang lain, Pak DJ adalah guru yang sudah berumur dan galak. Tapi bagiku beliau adalah guru yang sangat disiplin tanpa pandang bulu demi tersampaikannya materi pelajaran kami. Dan bagi kami semua, ilmu Pak DJ itu awesome :)
Entah bagaimana aku dapat menilai Pak DJ dengan sedemikian rupa berbeda dari teman-teman yang lain. Pak DJ memang bukan spesialis seni rupa seperti Pak Tri, beliau lebih cenderung ke seni musik. Beliaulah yang menciptakan mars sekolah kami. Namun tetaplah aku lebih senang Pak DJ yang mengajar.
Yang masih aku ingat dari pengajaran Pak DJ adalah ketika beliau mengajari tempo bernyanyi. Untuk menyamakan tempo kami sekelas, Pak DJ menyuruh kami jalan ditempat –did u know?- Jadilah kami satu kelas harus jalan di tempat dengan menyanyikan beberapa lagu perjuangan, lagu Inggris, dan lagu Jepang selama dua jam pelajaran hanya dengan sesekali berhenti untuk mendengarkan penjelasan Pak DJ. Penjelasan selesai, ya kami harus mulai jalan di tempat lagi. Ppfftt.
 Kemudian tibalah pelajaran seni rupa. Pak DJ memberikan pilihan kepada kami untuk berekspresi lewat kanvas atau lewat gips. Yah, seni lukis atau seni ukir/pahat. Dari hasil votting, seni ukir/pahat terpilih. Pupuslah semangatku. Bagaimana tidak, aku sudah pernah mendapat tugas untuk seni ukir dengan media sabun saat elementary school.
Di pertemuan berikutnya  Pak DJ memberikan tantangan untuk menggambar sebuah lingkaran di papan tulis. Saat giliranku tiba, aku mengambil kapur dengan perlahan dan ragu-ragu. Aku menarik napas, dan menggoreskan kapurku membentuk sebuah lingkaran dengan cepat. Tanpa melihat hasilnya aku duduk kembali ke bangkuku, dan walaaaa~ lingkaranku yang menunjukan hampir sempurna. Di akhir penutup, yang aku pelajari adalah bahwa bagaimana pun kita menggambar, entah dengan perlahan atau dengan hati-hati, jika dengan suatu inajinasi yang pasti dan key akinan yang kuat dari pikiran dan hati, apa yang kita gambar akan tampak seperti yang kita pikirkan.
Yang terakhir adalah ketika ekstrakulikuler seni musik, hey I joined it. Beliau mengajari kami bagaimana mengenal nada demi nada, memainkan pianika, dan menyanyikan lagu Josh Groban – We Raise Me Up dan lagu Jepang – Kokoronotomo.
Ada cerita menarik mengapa aku mengikuti kelas seni musik Pak DJ.
Tujuanku adalah untuk dapat dekat dengan Pak DJ agar beliau mengajariku seni lukis. (Dulu saat elementary school, aku mengikuti ekskul lukis). Aku menghiraukan kekejaman Pak DJ yang sudah mendunia, haha, meninggalkan tugasku sebagai pengibar bendera demi menempati posisi paduan suara. Hmm yah aku dulu juga “sempat” tergabung dalam ekstrakuliker PASBAR (Pasukan Bendera) walaupun tak pernah bertugas selain Pengibar Bendera. Dan kau tau apa yang aku dapatkan? Bukanlah sebah pengajaran tentang seni lukis, namun sebuah tawaran pengajarann drum. Di saat itu pulalah aku mengundurkan diri sebagai anggota Ekstrakulikuler Seni Musik, dan beralih ke Bola Volly melanjutkan pula ketika aku elementary school.
Perjuangan yang “ehm” banget deh. Wihiiiy, yang penting sekarang aku sudah menemukan beberapa orang anak seni ;) Dari merekalah aku akan belajar bagaimana seni itu, terutama seni lukis. InsyaAllah. Amin.
Well, have u some tips for me, or ur opinion. Lets talk and inform me ;)
border_line
Tonight, as I was exchanging messages to Masao, I am reminded of one of my art teacher at Junior High School. At Junior High School, I had an art teacher that two Tri Pak and Pak Djarwanto. Tri Pak only teach my classes in 1 year, 2 years of rest we are guided by Mr. DJ-so we called her-
For other friends, Mr. DJ is the teacher who has lived and fierce. But to me he is a very disciplined teachers indiscriminately tersampaikannya for our subject matter. And for all of us, science is awesome :) Mr. DJ
Somehow I could judge Mr. DJ in a way different from other friends. Mr. DJ does not specialize in fine art such as Mr. Tri, he was more inclined to the art of music. She who creates mars our school. But still I prefer Mr. DJ who teach.
Which I still remember from teaching Mr. DJ is when he teaches tempo sing. To equate our tempo classmate, Mr. DJ told us the place-did u know? – Be Our one class should be the way in the struggle to sing a few songs, English songs and Japanese songs during two periods with only occasional stops to listen to the explanation of Mr. DJs. Explanations over, yes we have to start walking on the spot again. Ppfftt.
Then comes the art lessons. Mr. DJ gives us options for expression through the canvas or through the cast. Well, painting or sculpture / carving. From the results votting, carving / sculpture selected. Pupuslah spirits. How not, I’ve got a job for the media soap carving as elementary school.
At the next meeting Mr. DJ provide a challenge to draw a circle on the board. When my turn came, I took the lime slowly and hesitantly. I took a breath, and scraping kapurku form a circle quickly. Without seeing the results I sat back to my seat, and walaaaa ~ Circles that show almost perfect. At the end of the cover, which I learned was that no matter how we draw, either slowly or cautiously, if at a key inajinasi Akinan definite and strong of mind and heart, what our image would look like what we think.
The last straw was when the extracurricular music, hey I joined it. He taught us how to recognize the tone for tone, plays pianika, and sing Josh Groban – We Raise Me Up and Japanese songs – Kokoronotomo.
There is an interesting story why I attend art classes Mr. DJ music.
My goal is to be close to Mr. DJ so he taught me the art of painting. (Back when the elementary school, I attended extracurricular painting). I ignored the atrocities that have worldwide DJ Pak, haha, leaving my job as flag raisers for chorus positions. Hmm well I used to be “had” joined in ekstrakuliker PASBAR (Forces Flag) despite never served besides flag raisers. And you know what I get? Obstruction is not the teaching of art, but a bid pengajarann ​​drum. At precisely that moment I resigned as a member of Musical Arts Extracurricular and switch to Volly Ball went well when I was elementary school.
Struggle “um” deh. Wihiiiy, which is important now that I’ve found a couple of kids art ;) From them I’m going to learn how art, especially painting. Hopefully. Amen.
Well, u have some tips for me, or ur opinion. Lets talk and inform me ;)
border_line

No comments:

Post a Comment

Small Cute Hot Pink Pointer